ALLAH MAHA ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH
“ALLAH MAHA ADA TANPA TEMPAT DAN
ARAH”
Allah
ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya
(baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang
menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)
Ayat
ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah
sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa
alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda.
Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi
karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar
al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim).
Benda
yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;
1.
Benda Lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang
oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.
2.
Benda Katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh
tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Adapun
sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di
tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan
kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al
Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh
disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk
dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena
seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa
dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar
dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang
membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.
Rasulullah
shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa
permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi
dan Ibn al Jarud). Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa
permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada
angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat
dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia
tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap
ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru
(makhluk).
Al
Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
“Allah ta’ala ada
pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum
menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia
pencipta segala sesuatu”.
Al
Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan :
“Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan
bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak
boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia
ada tanpa tempat”.
Maka
sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah
sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya
tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah
penafian atas adanya Allah.
Al
Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506,
mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil
dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam: Maknanya: “Engkau
azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di
atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada
sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
Jika
tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia
tidak bertempat”.
Hadits
Jariyah
Sedangkan
salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya member persangkaan bahwa Allah
ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya,
tetapi harus ditakwil dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi
maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh
ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam
Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang maknanya shahih
adalah: Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang
sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dengan
membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah
sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang
mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan
memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi
tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”,
Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul
(utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Apakah engkau
beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”,
kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.
Al
Hafizh al Haytsami (W. 807 H) dalam kitabnya Majma’ az-Zawa-id Juz I, hal. 23
mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan perawi-perawinya
adalah perawi-perawi shahih”. Riwayat inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip
dan dasar ajaran Islam, karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang
hendak masuk Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang
lain.
Tidak
Boleh dikatakan Allah ada di atas ‘Arsy atau ada di mana-mana
Senada
dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari di atas perkataan sayyidina Ali
ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-: Maknanya: “Allah ada (pada azal) dan
belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap
seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi
dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
Karenanya
tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak
boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul
Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir
menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada
di mana-mana”.
Aqidah
yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.
Al
Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya
Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan
kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan
oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)
Sayyidina
Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya
yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana
(pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk)
tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar
al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 98).
Allah
Maha suci dari Hadd
Maknanya:
Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah
segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan
pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun
besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk
melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan
angin masing-masing mempunyai ukuran.
Al
Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang
siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak
mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan
oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).
Maksud
perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah
adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas
tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.
Semua
bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah
serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan
sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Allah
ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”.
Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh
dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia.
Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali.
Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa
ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena
definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.
Al
Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38
H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia
berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan
ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun
disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia
tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah
Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak
antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah.
(Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad
muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan
Rasulullah).
Hal
ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan
Hulul.
Bantahan
Ahlussunnah terhadap Keyakinan Tasybih; bahwa Allah bertempat, duduk atau
bersemayam di atas ‘Arsy.
Al Imam Abu Hanifah
-semoga Allah meridlainya- berkata :
“Barangsiapa yang
mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi
maka dia telah kafir”. (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).
Al
Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya “Hall ar-Rumuz”
menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan : “Karena perkataan ini
memberikan persangkaan bahwa Allah bertempat, dan barang siapa yang menyangka
bahwa Allah bertempat maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah
dengan
makhluk-Nya)”.
Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi
dalam Isyarat al Maram.
Al Imam al Hafizh Ibn
al Jawzi (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih :
Maknanya:
“Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah
Musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan Makhluk-Nya) dan Mujassim
(orang yang meyakini bahwa Allah adalah jisim: benda) yang tidak mengetahui
sifat Allah”.
Al Hafizh Ibnu Hajar
al ‘Asqalani (W. 852 H) dalam Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari mengatakan :
“Sesungguhnya kaum
Musyabbihah dan Mujassimah adalah mereka yang mensifati Allah dengan tempat
padahal Allah maha suci dari tempat”.
Di dalam kitab al
Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, h. 259 tertulis sebagai
berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala “.
Juga
dalam kitab Kifayah al Akhyar karya al Imam Taqiyyuddin al Hushni (W. 829 H),
Jilid II, h. 202, Cetakan Dar al Fikr, tertulis sbb : “… hanya saja an-Nawawi
menyatakan dalam bab Shifat ash-Shalat dari kitab Syarh al Muhadzdzab bahwa
Mujassimah adalah kafir, Saya (al Hushni) berkata: “Inilah kebenaran yang tidak
dibenarkan selainnya, karena tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dan
meyakini bahwa Allah adalah jisim –benda-) jelas menyalahi al Qur’an. Semoga
Allah memerangi golongan Mujassimah dan Mu’aththilah (golongan yang menafikan
sifat-sifat Allah), alangkah beraninya mereka menentang Allah yang berfirman
tentang Dzat-Nya (Q.S. asy-Syura : 11)
Maknanya:
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia disifati
dengan sifat pendengaran dan penglihatan yang tidak menyerupai pendengaran dan
penglihatan makhluk-Nya”.
*Ayat ini jelas
membantah kedua golongan tersebut.
Imam
Abu Hanifah Mensucikan Allah dari Arah
Al
Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata
yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang
haqq (pasti terjadi) tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa
menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”
Ini
adalah penegasan al Imam Abu Hanifah –semoga Allah meridlainya- bahwa beliau
menafikan arah dari Allah ta’ala dan ini menjelaskan kepada kita bahwa ulama
salaf mensucikan Allah dari tempat dan arah.
Imam
Malik Mensucikan Allah dari sifat Duduk, Bersemayam atau semacamnya
Al
Imam Malik –semoga Allah meridlainya– berkata: “Ar-Rahman ‘ala al ‘Arsy istawa
sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan
bagaimana, dan kayfa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya”
(Diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat).
Maksud perkataan al
Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda seperti
duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.
Sedangkan riwayat
yang mengatakan wa al Kayf Majhul adalah tidak benar dan Al Imam Malik tidak
pernah mengatakannya.
Dzat
Allah Tidak Bisa Dibayangkan
Al
Imam asy-Syafi’i -semoga Allah meridlainya– berkata: “Barang siapa yang
berusaha untuk mengetahui pengatur-Nya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia
bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka dia adalah musyabbih (orang yang
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), kafir. Dan jika dia berhenti pada
keyakinan bahwa tidak ada tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu’aththil
-atheis- (orang yang meniadakan Allah). Dan jika berhenti pada keyakinan bahwa
pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui
bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahhid (orang yang
mentauhidkan Allah); muslim”. (Diriwayatkan oleh al Bayhaqi danlainnya)
Al
Imam Ahmad ibn Hanbal dan al Imam Tsauban ibn Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri,
salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridlai keduanya-
berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidak
menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)” (Diriwayatkan oleh Abu al
Fadll at-Tamimi dan al Khathib al Baghdadi)
Hukum
Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda
Syekh
Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al-Qawim h. 64, mengatakan:
“Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan
asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah -semoga Allah meridlai mereka-
mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di
suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut
(kekufuran)”.
Al
Imam Ahmad ibn Hanbal ra. mengatakan:
“Barang
siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia
telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli
hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’I dalam kitab Tasynif al Masami’ dari
pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam
Ahmad ibn Hanbal). Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir
mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia
telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.
As-Salaf
ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua
Sifat-sifat Makhluk
Al
Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupunbesar, jadi Allah tidak
mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar
(seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti
mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
Dia
tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri,
depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru
tersebut”.
Perkataan
al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat
dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).
Diambil
dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa
Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam naik
ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan
Rasulullah shalalllahu ‘alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban
makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga
tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu
‘alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat,
melainkan yang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat
mi’rajadalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al
Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah
meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas
min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang
dinisbatkan kepadanya.
Sedangkan
ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa,
hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit. Akan tetapi karena
langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah.
Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal
ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah
adalah kiblat shalat. Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama
Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya
al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din, al
Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy
ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
Perkataan
al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham
Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau
pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya. Dan
ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana
dikatakan oleh al Imam as-Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al
Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam
al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh
Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu
memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut
tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.
Al Imam ath-Thahawi
juga mengatakan:
“Barangsiapa menyifati
Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.
Di
antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk,
bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada satu
tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka
orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa Arab
adalah bahasa Allah atau mengatakan bahwa kalam Allah yang azali (tidak
mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah
menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Dan barang siapa yang menyifati Allah
dengan salah satu dari sifat-sifat manusia seperti yang tersebut di atas atau
semacamnya ia telah terjerumus dalam kekufuran.
Begitu
juga orang yang meyakini Hulul dan Wahdah al Wujud telah menyerupakan Allah
dengan makhluk-Nya.
Aqidah
Imam Abul Hasan al Asy’ari
Al
Imam Abu al Hasan al Asy’ari (W. 324 H) ra berkata: “Sesungguhnya Allah ada
tanpa tempat” (diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma wa ash-Shifat).1
Beliau juga mengatakan:
1 Ini adalah salah
satu bukti yang menunjukkan bahwa kitab al Ibanah yang dicetak
dan tersebar sekarang
dan dinisbatkan kepada al Imam Abu al Hasan al Asy’ari telah banyak
dimasuki
sisipan-sisipan palsu dan penuh kebohongan, maka hendaklah dijauhi kitab
tersebut.
“Tidak boleh
dikatakan bahwa Allah ta’ala di satu tempat atau di semua tempat”. Perkataan al
Imam al Asy’ari ini dinukil oleh al Imam Ibnu Furak (W. 406 H) dalam karyanya
al Mujarrad.
Ayat
Muhkamat dan Mutasyabihat
Al
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah
aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits
Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini
merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Mutasyabihat
artinya nash-nash al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi
wasallam yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh
diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih
(menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), akan tetapi wajib dikembalikan
maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur’an pada ayat-ayat yang
Muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab, yaitu
makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya.
Ayat
Istiwa’
Di
antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah
firman Allah ta’ala (surat Thaha: 5):
Ayat
ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau
berada di atas ‘Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh
dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak
seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus
benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Bayhaqi (W. 458 H), al Imam
al Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H)
dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa Arab memiliki 15 makna.
Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsirkan dengan makna yang layak bagi
Allah dan selaras dengan ayat-ayat Muhkamat.
Berdasarkan
ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke dalam bahasa Indonesia dan
bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan
kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah
menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara
(menundukkan atau menguasai).
Dengan
ini diketahui bahwa tidak boleh berpegangan kepada “al Qur’an dan Terjemahnya”
yang dicetak oleh Saudi Arabia karena di dalamnya banyak terdapat penafsiran
dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti ketika
mereka menerjemahkan istawa dengan bersemayam, padahal Allah maha suci dari
duduk, bersemayam dan semua sifat makhluk. Mereka juga menafsirkan Kursi dalam
surat al Baqarah:255 dengan tempat letak telapak kaki-Nya, padahal Allah maha
suci dari anggota badan, kecil maupun besar, seperti ditegaskan oleh al Imam
ath-Thahawi dalam al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah.
Al Imam Ali –semoga
Allah meridlainya- mengatakan:
“Sesungguhnya
Allah menciptakan ‘Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk
menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
Maka
ayat tersebut di atas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara
(menundukkan dan menguasai) yakni Allah menguasai ‘Arsy sebagaimana Dia
menguasai semua makhluk-Nya. Karena al Qahr adalah merupakan sifat pujian bagi
Allah. Dan Allah menamakan dzat-Nya al Qahir dan al Qahhar dan kaum muslimin
menamakan anak-anak mereka ‘Abdul Qahir dan ‘Abdul Qahhar. Tidak seorangpun
dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd al jalis (al jalis adalah nama bagi
yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia,
jin, hewan dan malaikat. Penafsiran di atas tidak berarti bahwa Allah sebelum
itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat
Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy adalah merupakan
makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut
‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.
Riwayat yang Sahih dari Imam Malik tentang Ayat Istiwa’ Al Imam Malik ditanya
mengenai ayat tersebut di atas, kemudian beliau menjawab:
Maknanya: “Dan tidak
boleh dikatakan bagaimana dan al kayf /bagaimana (sifat-sifat benda) mustahil
bagi Allah”. (diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma wa
ash-Shifat)
Maksud
perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda
seperti duduk, bersemayam dan sebagainya. Sedangkan riwayat yang mengatakan wal
Kayf Majhul adalah tidak benar.
Penegasan
Imam Syafi’i tentang Orang yang Berkeyakinan Allah duduk di atas ‘Arsy
Ibn
al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi
menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih
fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al
Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di
atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ulama
Ahlussunnah yang Mentakwil Istiwa’
Kalangan
yang mentakwil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Di antaranya adalah al Imam ‘Abdullah ibn Yahya ibn al Mubarak (W. 237 H) dalam
kitabnya
Gharib
al Qur’an wa Tafsiruhu, al Imam Abu Manshur al Maturidi al Hanafi (W. 333 H)
dalam kitabnya Ta’wilat Ahlussunnah Wal Jama’ah, az-Zajjaj, seorang pakar
bahasa Arab (W. 340 H) dalam kitabnya Isytiqaq Asma Allah, al Ghazali
asy-Syafi’i (W. 505 H) dalam al Ihya, al Hafizh Ibn al Jawzi al Hanbali (W. 597
H) dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih, al Imam Abu ‘Amr ibn al Hajib al
Maliki (W. 646 H) dalam al Amaali an-Nahwiyyah, Syekh Muhammad Mahfuzh
at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i (W. 1285-1338 H) dalam Mawhibah dzi al
Fadll, Syekh Muhammad Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i (W. 1314 H-1897)
dalam kitabnya at-Tafsir al Munir dan masih banyak lagi yang lainnya.
Inkonsistensi
Orang yang Memahami Ayat Istiwa’ secara Zhahirnya Dan orang yang mengambil ayat
mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115
surat al Baqarah: Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya:
“ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscayaAllah ada di
sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan.
Akan
tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat
sunnah di atas hewan tunggangan, ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap
selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka – فثم وجه الله – di sanalah
kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. 102 H) murid Ibn
Abbas. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dalam al Asma’
Wa ash-Shifat.
Referensi Kitab Aqidah 111 halaman, dalam bahasa
indonesia, penerbit Syahamah Press dengan kata pengantar
ulama-ulama sunni :
This article credited
to this link :
7/18/2015 06:29:00 AM
|
Labels:
Islam,
Kumpulan Artikel dan Makalah,
Wawasan
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Copyright 2014 uldatun qonita . Diberdayakan oleh Blogger.
Popular Posts
-
BAHAN AJAR IPA SMK XII BAB I. EKOSISTEM Standar Kompetensi : Memahami komponen ekosistem serta peranan manusia dalam menjaga kesei...
-
MAKALAH IPA SIKLUS BIOGEOKIMIA (AIR, KARBON, NITROGEN) DAN PERANANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ...
-
Sinopsis: Di SMA Kaimei ada sebuah kelompok yang bertugas membantu setiap masalah dan keluhan siapapun di se...
Pages
!-end>!-my>
Mengenai Saya
- uldatun qonita
- Indonesia
- BERBAGI KESEDERHANAAN Silakan meninggalkan jejak sobat, kritik dan saran anda sangat saya harapkan NB : No Sara !
Gadget
Postingan Populer
-
“ALLAH MAHA ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH” Allah ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari ...
-
SELUK BELUK INTROVERT-ISME Dalam kehidupan sosial tentunya memang harus ada interaksi antara makhluk satu dengan yang la...
-
Halo semua! Bertemu lagi dengan saya Fan24 di my.JOI . Mungkin beberapa dari kalian pasti sudah tahu siapa itu Kirito kan? ya...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dimulai dengan makin maraknya industri besar yang berdiri serta kehidupan masyarakat yang t...
-
Sebagai salah satu produsen alat menggambar terbesar di Indonesia, Faber-Castell Indonesia siap mempersembahkan kepada masyarak...
-
Seungri sempat makan malam bersama keponakan Aburizal Bakrie, Adinda Bakrie dan menonton 'Sunny Side Up Festival' di Bali. ...
-
Makalah Gempa Bumi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sampai saat ini bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat m...
-
Kutukan SAWO berakhir juga (walau masih banyak kutukan lain yang menunggu untuk diselesaikan). So far, gw (mayoritas dari kami) ...
-
Type TV Series Total Episode (25) Dua puluh lima status Ongoing Genres...
-
Kepopuleran Hello Kitty yang mendunia tampaknya memunculkan banyak spekulasi terkait asal usulnya. Seperti beberapa informasi yang dis...
Postingan Populer
-
“ALLAH MAHA ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH” Allah ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari ...
-
SELUK BELUK INTROVERT-ISME Dalam kehidupan sosial tentunya memang harus ada interaksi antara makhluk satu dengan yang la...
-
Halo semua! Bertemu lagi dengan saya Fan24 di my.JOI . Mungkin beberapa dari kalian pasti sudah tahu siapa itu Kirito kan? ya...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dimulai dengan makin maraknya industri besar yang berdiri serta kehidupan masyarakat yang t...
-
Sebagai salah satu produsen alat menggambar terbesar di Indonesia, Faber-Castell Indonesia siap mempersembahkan kepada masyarak...
-
Seungri sempat makan malam bersama keponakan Aburizal Bakrie, Adinda Bakrie dan menonton 'Sunny Side Up Festival' di Bali. ...
-
Makalah Gempa Bumi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sampai saat ini bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat m...
-
Kutukan SAWO berakhir juga (walau masih banyak kutukan lain yang menunggu untuk diselesaikan). So far, gw (mayoritas dari kami) ...
-
Type TV Series Total Episode (25) Dua puluh lima status Ongoing Genres...
-
Kepopuleran Hello Kitty yang mendunia tampaknya memunculkan banyak spekulasi terkait asal usulnya. Seperti beberapa informasi yang dis...
0 comments:
Posting Komentar